Rabu, 05 April 2017

INTELEGENSI

INTELEGENSI
Inteligensi adalah keahlian memecahkan dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari. Dibanding dengan kepribadian murid, inteligensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid.
Tes Inteligensi Individual

Tes Binet. Psikolog Alfred Binet dan mahasiswanya menyusun tes ini—yang awalnya berguna untuk menyaring murid yang kurang mampu di Perancis. Tes ini disebut skala 1905. Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau usia mental, yakni level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain. Tak lama kemudian, pada 1912 William Stern menciptakan konsep IQ, intelligence quotient, yaitu usia mental dibagi dengan usia kronologis dan dikalikan 100.

Skala Wechsler. Dikembangkan oleh David Wechsler. Selain menunjukkan IQ keseluruhan, skala Wechsler juga menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja, ini dapat membuat peneliti bisa melihat dengan cepat pola-pola kekuatan dan kelemahan dalam area inteligensi murid yang berbeda-beda.

Tes Individual VS Tes Kelompok

Tes inteligensi kelompok mencakup Lorge-Thorndike Intelligence Tests, Kuhlman-Anderson Intelligence Tests, dan Otis-Lennon School Mental Abilities Tests. Tes kelompok lebih nyaman dan ekonomis ketimbang tes individual, namun kekurangannya adalah peneliti tidak dapat menyusun laporan individual.

Teori Multiple Intelligences

Pandangan Awal. Binet dan Stern memfokuskan pada konsep inteligensi umum yang oleh Stern dinamakan IQ.

Teori Triarkis Sternberg. Menurut teori inteligensi triarkis dari Robert J. Sternberg, inteligensi muncul dalam bentuk: analitis, kreatif, dan praktis.

Delapan Kerangka Pikiran Gardner. Terdapat 8 kerangka pikiran menurut Howard Gardner, diantaranya adalah keahlian verbal, keahlian matematika, keahlian spasial, keahlain tubuh-kinestesik, keahlian musik, keahlian intrapersonal, keahlian interpersonal, dan keahlian naturalis. Proyek spektrum adalah usaha inovatif untuk menguji anak-anak. Key school adalah sekolah dasar K-6 di Indianapolis yang menyediakan kepada murid berbagai aktivitas yang berkaitan dengan delapan kerangka pikiran Gardner.

Emotional Intelligence. Menurut Peter Salovy dan John Maer emotional intelligence sebagai kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan perasaan serta emosi orang lain. Menurut Daniel Goleman, emotional intelligence terdiri dari empat area, developing emotional awareness, managing emotions, reading emotions, dan handling relationships.

Mengevaluasi Pendekatan Multiple-Intelligences. Teori ini merangsang kita untuk berpikir lebih luas tentang apa yang membentuk inteligensi dan kompetensi orang.

Kontroversi dan Isu dalam Inteligensi
Sifat dan Asuhan. Isu tentang apakah perkembangan seseorang terutama dipengaruhi oleh sifat alamiah ataukah oleh pengasuhan.

Apakah Orang Punya Intelegensi Umum? Dalam sebuah studi, John Caroll (1993) melakukan penelitian intensif terhadap kemampuan intelektual dan menyimpulkan bahwa kemampuan intelektual saling terkait, dan ini mendukung konsep intelegensi umum, namun disisi lain juga ada banyak kemampuan khusus.

Etnis dan Kultur. Terkait dengan perbandingan etnis dan bias kultural dan tes yang fair secara kultural.

Tes yang Fair secara Kultural. Merupakan tes yang diusahakan bebas dari bias kultural.

Pengelompokkan dan Penelusuran Kemampuan. Pengelompokkan kemampuan antarkelas adalah pengelompokkan murid berdasarkan kemampuan mereka sedangkan pengelompokkan kemampuan dalam kelas adalah penempatan murid dalam dua atau tiga kelompok didalam kelas berdasarkan kemampuan mereka.

CARA BEALAJAR DAN GAYA BERFIKIR

Kedua hal ini bukanlah kemampuan, tetapi merupakan cara seseorang untuk menggunakan kemampuannya.

Dikotomi Gaya Belajar dan Berpikir

Gaya Impulsif/Reflektif. Merupakan tempo konseptual, yakni murid bertindak cepat dan impulsif atau menggunakan lebih banyak waktu untuk merespon dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban. Murid yang impulsif lebih banyak melakukan kesalahan dibanding dengan murid yang reflektif.

Gaya Mendalam/Dangkal. Gaya mendalam adalah cara murid memahami makna materi tertentu sedangkan gaya dangkal adalah cara belajar yg sekadar mencari apa-apa yang perlu untuk dipelajari.

Mengevaluasi Gaya Belajar dan Berpikir
Gaya belajar dan berfikir mungkin bervariasi berdasarkan konteks sekolah, level kelas, dan mata pelajaran.

KEPRIBADIAN DAN TEMPRAMEN

Kepribadian
Merupakan pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi ciri dari seseorang dalam menghadapi dunianya.

Interaksi Orang-Situasi. Menurut konsep ini, cara terbaik untuk mengkarakterisasi kepribadian individual bukan hanya dengan bawaan personal, namun juga dengan situasinya.

Temperamen
Temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan atau respons. Menurut Alexander Chess dan Stella Thomas, ada tiga tipe atau jenis temperamen :

  1. Easy Child (mood positif, cepat membangun rutinitas dan mudah beradaptasi)
  2. Difficult Child (mood negatif, agresif, kurang kontrol diri, dan lamban dalam beradaptasi)
  3. Slow-To-Warm-Up Child (lamban, agak negatif, mood rendah)

PERENCANAAN DAN INSTRUKSI PELAJARAN TEACHER CENTERED

Perencanaan Pelajaran Teacher-Centered

            Tiga alat umum yang berguna dalam perencanaan Teacher-centered adalah menciptakan sasaran behavioral(perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi instruksional.

   1.      Menciptakan Sasaran Behavioral
Sasaran behavioral adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Dalam hal ini ada bagian utama, yaitu:
-          Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan diperlajari atau dilakukan murid
-          Kondisi di mana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan di evaluasi atau di tes.
-          Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diteima.
   
   2.      Menganalisis Tugas
Alat lain dalam perencanaan Teacher-Centered adalah analisis tugas, yang difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid mengenai komponen-komponen. Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar :
- Menemtukan keahlian atau konsep yang diperlaukan murid untuk mempelajari tugas.
- Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator dan sebagainya.
- Mendaftar semua komponen tugas yang akan dilaksanakan.
  
   3.      Menusun Taksonomi Instruksional
Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain : kognitif, afektif dan psikomotor.



    1.      Domain Kognitif, mengandung enam sasaran
 *  Pengetahuan. Murid punya kemampuan untuk menginggat informasi.
*   Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
*   Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah kehidupan nyata.
*   Analisis. Murid memecah informasi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
*   Sintesis. Murid mengombinasikan elemen-elemen yang menciptakan informasi baru.
*   Evaluasi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.

Sasaran kognitif Bloom dapat dipakai saat penilaian perencanaan. Soal benar/salah, pilihan berganda, dan jawaban singkat sering kali dipakai untuk menilai pengetahuan dan pemahaman.

    2.      Domain Afektif, terdiri dari lima sasaran :
*   Penerimaan. Murid mengetahui atau memperhatikan suatu lingkungan.
*   Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukan perilaku baru sebagai hasil dari pengalaman.
*   Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengalaman.
*   Pengorganisasian. Murid mengintregasikan nilai baru keperangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
*   Menghargai Karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmen kepada nilai tersebut.

    3.      Domain Psikomotor, sasaran psikomotor menurut Bloom adalah :
*   Gerak Refleks. Murid merespon  suatu stimulus secara refleks tanpa perlu banyak berfikir.
Gerak Fundamental Dasar. Murid melakukan gerakan dasar dengan tujuan tertentu.
*   Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indera seperti, penglihatan, pendengaran, dan sentuhan.
*   Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksibelitas,dan kegesitan.
*   Perilaku nondiskusif. Murid mengomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.


Instruksi Langsung

            Instruksi langsung adalah pendekatan teacher-centerd yang terstruktur dan dirincikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasikan waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid (Joyce & Weil, 1996).

            Fokus instruksi langsung adalah, aktivitas akademik, materi non akademik (seperti makan,game, dan teka-teki) cenderung tidak dipakai, interaksi murid guru (seperti percakapan atau perhatian tentang diri atau pribadi) juga tidak begitu ditekankan. Tujuan penting dari instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar murid (Stevenson, 2000). Waktu yang dipakai murid pada tugas-tugas akademik di kelas dinamakan waktu pembelajaran akademik. Pembelajaran membutuhkan waktu. Semakin banyak waktu pembelajaran murid, semakin besar kemungkinan mereka mempelajari materi dan meraih standart tinggi. Premis instruksi langsung menyatakan bahwa cara terbaik untuk memaksimalkan tugas akademik adalah menciptakan lingkungan belajar yang berorientasi akademik secara terstruktur.

MOTIVASI

Motivasi

Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku Artinya, yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. 


Perspektif tentang Motivasi 

Terdapat empat perspektif yaitu:
behavioral, humanistis, kognitif, dan sosial
Perspektif Behavioral

 1. Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat. Insentif yang diberikan guru dikelas antara lain nilai yang baik.
Perspektif Humanistis.

2. Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka Dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut :
-     
      -      Fisiologis: lapar, haus, tidur
-      -   Keamanan (safety): bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan
-      -   Cinta dan rasa memiliki keamanan (security, kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
-      -  Harga diri menghargai diri sendiri
-       - Aktualisasi diri realisasi potensi diri. 


3. Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kog nitif (Pintrich & Schunk, 2002). Minat ini berfokus pada ide- ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu atribusi mereka sebab-sebab kesuksesan (persepsi tentang dan kegagalan, terutama perspesi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efekttif.

 Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan perspektif behavioris memandang motivasi murid sebagai konsekuensi dari insentif eksternal, sedangkan perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Perspektif kognitif merekomendasikan agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri .

Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.w. White (1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka memproses informasi secara efisien. White mengatakan bahwa orang melaku kan tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.


4. Perspektif sosial. Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendap,atkan yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi.

Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri. Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. Bukti terbaru mendukung pembentukan iklim kelas di mana murid bisa termotivasi secara intrinsik untuk belajar. 
Determinasi Diri dan Pilihan Personal

Salah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada determinasi diri. Dalam pandangan ini murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesukesan atau imbalan eksternal. 

Pengalaman optimal.

Mihaly csikszentmihalyi (1990, 1993, 2000; Nakamura dan csikszentmihalyi, 2002) juga mengembangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi intrinsik. Dia mempelajari pengalaman optimal dari orang-orang selama lebih dari dua dekade. Orang melaporkan bahwa pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar. Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Dia mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terla sulit tetapi juga tak terlalu mudah.

Anggapan tentang level tantangan dan keahlian dapat menghasilkan hasil yang berbeda-beda. Flow paling mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang, hasilnya adalah kejemuan. Ketika level tantangan dan keahlian adalah rendah, murid merasa apati. Dan ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasa tidak bisa mereka tangani, maka mereka merasa cemas.

Imbalan ekstrinsik dan motivasi instrinsik

Di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku muridKetika imbalan yang ditawarkan memberi kaninformasi tentang penguasaan keahlian atau kemampuan, murid akan merasa kompeten dan bersemangat. Poin penting di sini adalah bahwa bukan imbalan itu sendiri yang menyebabkan efek, tetapi tawaran atau ekspektasi atas hiah yang memberikan efek. Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk menjadi pandai. 

Sabtu, 18 Maret 2017

Psikologi Pendidikan cara belajar efektif

CARA BELAJAR EFEKTIF SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN

Kelompok 6
Via Dwi Wulandari 161301003
Helen Oktavia S 161301006
Fernaldo Frans 161301021
Erika Sustari 161301031
Vania Salsabyla 161301033
Risky Amelia Saragih 161301061
M Prananda Sikumbang 161301068

Implikasi Tahap Belajar Dan Perkembangan  Pada Masa TK (Taman Kanak-Kanak)

1. Tumbuh Mandiri.
Anak anak mulai berpikir bahwa mereka dapat mandiri, ialah menjadi individu yang memiliki kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukan dan menyelesaikan sesuatu, serta memiliki kemampuan bertindak sendiri walaupun masih sangat perlu bantuan dari orang tua.

2. Belajar Memberi, Membagi, dan Menerima Kasih Sayang.
Dari pola khas kasih sayang yang self-centered, anak-anak akan mengembangkan kemampuan memberi, berbagi kasih sayang dengan sebayanya ataupun dengan orang yang lebih tua. Guru dan orang tua perlu membantu anak agar aman dan dicintai.

3. Mampu Bergaul dengan Orang Lain.
Mereka perlu dibantu dan didukung untuk belajar teknik-teknik berinteraksi yang menimbulkan tanggapan positif dari orang lain.

4. Belajar Mengontrol Diri.
Sasaran belajar adalah membuat anak mempunyai disiplin diri, mengarahkan diri atau mengatur diri sendiri.

5. Mulai Memahami dan Mengontrol Dunia Kebendaan.
Guru mengembangkan inteligensi anak dengan memberi dukungan terhadap rasa ingin tahu,pikiran, penalaran, dan penggunaan informasi.

Cara Belajar Yang Efektif Untuk Siswa SD

1. Anak yang cenderung visual dapat belajar dengan dipilihkan buku dengan gambar yang berwarna-warni, serta bergambar namun bukan buku komik.

2. Bicaralah dengan nada tenang dan teratur. Anak-anak SDmembedakan guru mereka dari nada dan tinggi rendahnya suara para guru.

3. Berceritalah dalam mengajarkan sesuatu dan gunakan nada yang berbeda untuk menekankan topik pelajaran.

4. Metode belajar kolaboratif dengan melakukan kegiatan kelompok yang bekerja sama untuk memecahkan suatu masalah secara bersama untuk menempuh satu tujuan.

5. Pekerjaan tangan (art&craft) : menggunting, menempel, menggambar, fingerpainting, membuat belajar semakin efektif bagi anak SD.

6. Anak senang mengeksplorasi setiap hal yang ada di sekitarnya. Cara belajar yang efektif bagi anak yaitu dengan bereksperimen serta bereksplorasi. Contohnya anak diajak berekplorasi warna; putih dengan merah dicampur lalu akan melahirkan warna pink.

7. Gunakan metode dimana anak harus mecoba melakukan sesuatu sendiri dan bukan hanya menyaksikan demo atau peragaan.


Cara Belajar Efektif Bagi Pelajar SMP

1. Di awali dengan pengenalan materi yang akan di sajikan agar peserta didik dapat mengetahui dan tahu materi apa yang harus di pelajari. Serta memberikan bahan materi yang akan di pelajari selanjutnya.

2. Guru dapat menggunakan pendekatan ekspositori yaitu, guru mengontrol atau menenukan suatu penyebaran suatu ilmu pengetahuan didalam kelas peserta didik dipandang sebagai objek yang menerima apa yang di berikan oleh guru. Dalam pendekatan ini menunjukan bahwa guru berperan lebih aktif dan lebih banyak melalukan aktivitas dibandingkan peserta didik.

3. Sebelum memperdalam materi pembelajaran guru harus mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik agar dapat membantu peserta didik jika mengalami kesulitan dalam memahami bahan pembelajaran.

4. Menggunakan konsep “Masyarakat Belajar” (learning community), konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari kerjasama antar kelompok, dan antara yang sudah tahu ke belum tahu.

5. Menggunakan sesi bertanya, dimana guru akan menanyakan apa saja yang tidak di pahami oleh peserta didik tentang apa yang sudah di pelajari, tujuan nya agar peserta didik dapat menerima materi pembelajara dengan baik serta memahami nya.


Cara Belajar Yang Efektif Untuk Siswa SMA 

1. Karena pada saat dibangku SMA, mereka sudah bisa untuk berpikir tentang perencanaan dan inisiatif maka guru bisa memberikan suatu permasalahan yang lumayan kompleks agar para murid bisa menggunakan penalaran mereka untuk memecahkan masalah

2. Belajar dengan lebih mandiri

3. Mampu bekerja dalam kelompok secara lebih efektif

4. Belajar dengan cara-cara yang lebih kreatif

5. Dapat dengan mudah terdistraksi karena pengaruh lingkungan

6. Guru dapat membantu siswa SMA menggunakan pendekatan keterampilan proses (discover approach) dengan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep abstrak.

7. guru dapat mengajarkan bahasa asing ( second language ) pada para siswa SMA agar mereka semakin mahir dalam berbahasa kedua yang telah dipilihnya.


Sabtu, 04 Maret 2017

Psikologi Pendidikan.

Tugas Psikologi Pendidikan
Kelompok 6

  • Via Dwi Wulandari           161301003
  • Helen Oktavia S                161301006
  • Fernaldo Frans                  161301021
  • Erika Sustari                      161301031
  • Vania Salsabyla                 161301033
  • Risky Amelia Saragih       161301061
  • M Prananda Sikumbang    161301068


Classical Conditioning
- Ketika awalnya seseorang melihat pria berjubah putih, mengenakan peci, dan berjenggot tanpa menimbulkan reaksi apapun. Setelah ia mendengar beberapa berita tentang teroris yang melakukan aksi pengeboman dimana tersangkanya memiliki ciri-ciri yang sama dengan pria yang ia lihat sebelumnya, ia mulai mencoba untuk menjauh ketika melihat pria dengan ciri-ciri tersebut.
Stimulus netral = pria yang berjubah putih, mengenakan peci dan berjenggot.
Unconditioned stimulus = pengeboman.
Unconditioned respond = takut.
Conditioned stimulus = pria yang berjubah putih, mengenakan peci dan berjenggot (yang telah dipasangkan dengan unconditioned stimulus)
Conditioned respond = takut dan menghindar.

- Seorang ibu yang tidak memberikan respon apa apa ketika melihat anaknya terdiam, meskipun ia tahu bahwa anaknya memiliki tipe periang. Setelah beberapa menit kemudian,  anaknya terserang asma dengan diikuti perilaku si anak yang terlihat susah bernafas dan menghasilkan mengi akibat menyempitnya saluran pernafasannya, si ibu akhirnya panik dan memberikannya obat. Akhirnya setiap kali si ibu melihat anaknya terdiam, ia meresponnya dengan sikap panik.
Stimulus netral = anak terdiam.
Unconditioned stimulus = anak terserang asma.
Unconditioned respond =panik.
Conditioned stimulus = anak terdiam (yang telah dipasangkan dengan unconditioned stimulus).
Conditioned respond = panik.

- seorang guru ingin memberikan suatu stimulus agar para muridnya tidak membuat keributan ketika ia masuk kelas. Pada percobaan pertama, ketika guru masuk kelas dan mendapati muridnya masih membuat keributan, guru tersebut memukul papan tulis agar muridnya diam. Pada beberapa kali perlakuan yang sama, para murid langsung tertib ketika melihat guru mereka datang, padahal guru itu tidak lagi memukul papan tulis.
Unconditioned stimulus : Guru
Unconditioned Response : keributan anak murid saat guru datang
Conditioned Stimulus : pada saat guru memukul papan tulis
Conditioned Response : ketika para murid sontak langsung tertib ketika dipasangkan dengan conditioned stimulus

- Seorang wanita terkena suatu penyakit yang disarakan oleh beberapa dokter untuk segera dioperasi. Pada saat konsultasi pertama, dokter menyarankan ia untuk melakukan operasi. Karena takut, wanita itupun pergi menemui beberapa dokter lain terus menerus namun para dokter tetap mengatakan ia harus dioperasi. Hal itu membuat wanita tersebut takut untuk mendatangi rumah sakit lagi.
Unconditioned stimulus : anjuran operasi
Unconditioned Response : rasa takut karena anjuran operasi
Conditioned Stimulus : saran dari dokter
Conditioned Response : saat ia merasa takut karena saran dari dokter

- Anita sering sekali mendengar suara ambulance ketika lewat didepan rumahnya, karena rumah sakit berada dijalan yang sama dengan rumahnya. Setiap kali ambulance itu sampai selalu saja orang yang ingin diselamatkan tidak tertolong dan Anita pun mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” setiap kali ambulance itu lewat. Tanpa melihat apakah ada orang yang meninggal pada saat ambulance lewat Anita pun tetap mengucapkannya.
Unconditioned stimulus : orang yang tidak tertolong nyawanya
Unconditioned Response : mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Conditioned Stimulus : suara ambulance
Conditioned Response : saat anita mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un karena mendengar suara ambulance

Operant Conditioning
- Dulu saya jarang mau untuk mengantar orangtua saya ke suatu tempat, tetapi orangtua saya mulai mumbujuk dan akan memberikan saya tambahan uang jajan jika saya mau mengantar mereka ke suatu tempat. Maka dari itu saya sekarang mau mengantar orangtua saya karena adanya tambahan uang jajan yang diberikan.

- Waktu saya kecil saya sering ngompol tiap malam hari dan saya tidak mau buang air kecil sebelum tidur, sehingga mama saya mengatakan kepada saya jika saya mengompol lagi maka mama saya akan adukan saya ke guru disekolah dan mengatakan kepada teman teman saya bahwa saya suka ngompol. Karena hal tersebut, saya menjadi takut jika saya ngompol dimalam hari, saya akhirnya ingat dan selalu buang air kecil sebelum tidur untuk menghindari saya mengompol lagi pada malam hari.

- Susan yang pernah mengalami suatu kecelakaan karna hujan dan kondisi jalan yang rusak. Setelah sembuh, setiap kali melintas di jalan tersebut dengan kondisi hujan, susan selalu merasa cemas dan panik serta mengurangi kecepatan sepeda motornya.

- Seorang anak kecil yang nakal ditakut-takuti oleh ibunya kalau dia nakal maka orang yang berbadan tinggi besar dan berambut gondrong di persimpangan gang rumahnya akan datang dan membawa anak tersebut bersamanya. Maka setiap kali anak itu melihat orang yang berbadan tinggi besar itu, ia langsung lari dan bersembunyi.

- Ketika baron ingin berangkat ke Masjid untuk mengaji, ia selalu saja mencium tangan kakeknya dan diberi uang jajan yang lebih dari kakeknya sehingga Baron selalu saja mencium tangan kakeknya ketika akan pergi kemana pun.

Cognitive Conditioning
- Seorang anak yang memiliki orang tua dengan tingkat kepercayaan dan tinggat depresi yang cukup tinggi dalam mengambil keputusan saat dalam masalah, maka anak tersebut berfikir secara lebih mendalam  tentang cara menyelesaikan masalah tanpa berfikir panjang.

- Budi menanamkan pada dirinya untuk selalu menjadi siswa yang rajin dan mendapat nilai bagus, pada hasilnya ia menghasilkan ekspektasi positif dalam dirinya dan kemampuannya.

- Di rumah, ibu selalu mengajar dengan metode memberikan gambar atau video yang menarik sesuai dengan topik pembelajaran anak. Dalam hal ini metode pembelajaran seperti ini yang kemungkinan lebih diingat dan diperhatikan oleh sang anak.

- Seorang anak belajar dalam menyusun lego dengan bentuk yang anak tersebut inginkan

- seorang driver taksi Blu Bird memilih rute yang “memutar” daripada rute yang lebih singkat ketika mengantar penumpang untuk mendapat biaya yang lebih tinggi